Bukti Negara Kita Tidak Tidur


Pada hari ini pemerintah Indonesia melakukan langkah yang menurut saya cukup mendobrak yakni membubarkan organisasi massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saya tidak akan memberitakannya lagi namun ingin membahas betapa langkah ini memberikan pembuktian setidaknya dimata saya pemerintah kita masih punya ketegasan terhadap hal-hal yang sifatnya mengancam persatuan dan kesatuan negara kita. Mungkin juga kalian sependapat dengan saya.  Baca lebih lanjut

Raja Salman & Arab Saudi


Sebelum Raja Salman dari Arab Saudi datang berkunjung ke Indonesia, kata “Arab” memberikan kesan terhubung dengan Islam garis keras, karena kesan bentukan dari beberapa ormas Islam. Namun ketika Raja Salman akhirnya datang berkunjung dengan rombongannya yang super besar (sekitar 1500 orang), kesan tersebut serta merta hilang. Mengapa demikian?  Baca lebih lanjut

Polisi Cepek dan Cerminan Hukum Di Negara Kita


Dua hari yang lalu saya mengikuti “gumanan” twit salah seorang teman di Twitter, Pangeran Siahaan (@pangeransiahaan) yang bercerita tentang polisi cepek, polisi pembuka jalan (voorijder) yang sering disewa untuk membuka jalan agar tidak kena macet. Gumaman Pange (panggilan dari Pangeran Siahaan) setidaknya mengingatkan saya bahwa sayapun punya kegelisahan yang sama. Baca lebih lanjut

Apa yang salah dengan Bali?


Mungkin bagi travelers,  mempertanyakan Bali sebagai tujuan wisata di Indonesia adalah hal yang jarang terjadi. Bali sudah lama mendunia. Saya ingat saat saya masih duduk dibangku SMP dan mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan ke Amerika Serikat, banyak orang lokal yang tidak tahu keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara. Namun begitu kita menyebut Bali….deeeeng!! Langsung ring-a-bell. Alhasil kita “merelakan” waktu kita untuk menjelaskan dimana posisi Indonesia dan apa hubungan Bali dengan Indonesia.

Apa yang salah dengan Bali? Menurut saya Bali sebagai garda depan industri pariwisata Indonesia tidak cukup memberikan contoh yang bisa ditiru daerah-daerah lain yang memiliki potensi serupa. Mengapa demikian? Banyak infrastruktur yang tumbuh secara serampangan sehingga membuat Bali selain tentunya sudah terkenal jadi terlihat gamang dan tidak siap akan pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh industri pariwisata.

Sewaktu tiba di Bali dua hari lalu, kami disambut oleh kesemrawutan luar biasa karena pembangunan terminal baru di bandara Ngurah Rai. Well, saya yakin banyak orang setuju dengan pendapat yang bilang bahwa bandara adalah wajah bangsa karena sifat first impression yang dimilikinya. Berdasarkan keterangan supir jemputan yang kami sewa, perluasan bandara Ngurah Rai ini akan selesai kira-kira dalam satu tahun lagi.

Masalah klasik yang ada di Bali adalah sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, yaitu lemahnya penegakan hukum yang membuat segala sesuatu jadi halal dilakukan. Mulai dari hal-hal sederhana seperti menggunakan helm bagi pengendara motor sampai dengan ijin mendirikan bangunan.

Apa yang salah dengan Bali? Bagaimana menurut Anda?

Catatan: Tulisan ini dibuat pada saat saya dan keluarga menjalani liburan ke Bali, pada tanggal 7 – 10 Juni 2013

Indonesian Journalists Technographics Survey Report 2013


Setelah sukses merilis laporan terbuka ditahun 2012 yang bertajuk Indonesian Journalist Technographics 2011/2012 yang bercerita tentang bagaimana jurnalis Indonesia menggunakan internet, kali ini bekerjasama dengan Universitas Paramadina, Maverick kembali merilis laporan terbuka serupa untuk 2012/2013. Mari kita lihat dan pelajari dibawah ini:

Kita Semua Memimpikan Indonesia Yang Damai


Indonesia adalah negara tempat kita tinggal. Tanah yang kaya dengan bangsa yang memiliki sejarah panjang. Peristiwa demi peristiwa, baik maupun buruk ikut mendewasakan bangsa kita, dan dalam hati kecil seluruh warga menginginkan Indonesia menjadi Indonesia yang damai seperti yang ditunjukkan dalam video di bawah ini.

Kedelai Membuka Mata


Apa yang Anda ketahui tentang kedelai? Biji-bijian ber protein tinggi? Bahan utama pembuatan tahu dan tempe? Atau bagi pecinta susu kedelai tentu saja akan sangat faham gambar di atas ini ya. Dan mengapa saya tertarik untuk mengangkat kedelai sebagai bahan tulisan kali ini adalah karena akhir-akhir ini kedelai bertambah fungsinya yaitu membuka kenyataan bagaimana negara kita tercinta ini yang dijaman dahulu dibangga-banggakan sebagai negara agraris, subur berkecukupan ternyata rentan krisis pangan.

Kita semua ikut merasakan bahwa beberapa makanan di Indonesia yang berasal dari bahan kedelai semakin susah di cari, yang akhirnya membuat harga kedelai melonjak (dari Rp.5500,- per kg jadi Rp.8000,- per kg). Penyebab utama dari kenaikan harga ini adalah karena supply yang menjamin ketersediaan kedelai di pasar juga anjlok….dari mana supply tersebut? dan apa yang menyebabkannya jadi anjlok? Ya, kenyataan yang diungkapkan di media massa cukup membuat kita semua shock. Kekeringan di Amerika Serikatlah yang membuat kekacauan supply tidak hanya kedelai tapi juga jagung dan gandum. Dan yang bikin kita semua kaget adalah kenyataan bahwa Indonesia memang rentan krisis pangan karena tingkat ketergantungan negara kita terhadap pasokan pangan import cukup tinggi sehingga apa yang terjadi di negara asal pasokkan akan langsung berpengaruh terhadap kenaikan harga di pasar dalam negeri.

Berdasarkan diskusi yang kebetulan saya bangun di Facebook status saya, didapat informasi dari teman lama saya Tika Sukarna, seorang biologist bahwa sebenarnya semua negara di jaman sekarang sudah tergantung satu sama lain untuk produksi pangan, tidak bisa berdiri sendiri. Biasanya dilakukan impor karena memang lebih murah dibandingkan produksi sendiri. Mungkin dengan alasan ini maka tindakan pemerintah untuk mengimpor bahan pangan karena alasan lebih murah bisa diterima tapi pertanyaan yang mendasar adalah mengapa produksi dalam negeri tidak bisa dibuat lebih murah?

Saya ingat pada tahun 90an ketika saya masih bekerja di sebuah electronic home appliances manufacturing, issue penerapan kesepakatan AFTA dan NAFTA cukup membuat saya bergidik, karena ikutnya negara kita kedalam kesepatan tersebut sama dengan membuka keran impor dan “mengadu” produksi dalam negeri dengan produksi import head-to-head tanpa proteksi. Saya pada saat itu melihat industri kita tidak memiliki kesiapan (karena dimanja oleh proteksi selama berpuluh tahun) oleh karena itu yang terbayang adalah kehancuran industri dalam negeri yang akan terjadi. Kali ini saya melihat pola yang sama pada industri pangan kita. Kenyataan bahwa industri pangan kita pun tidak siap untuk survive di dalam negeri apalagi dibandingkan dengan industri pangan tempat negara kita bergantung (Amerika Serikat). Begitu mereka jatuh, negara kita akan ikut terseret, kalau memang kita tetap membiarkan ketergantungan total kita ini.

Industri kedelai dalam negeri diambang kehancuran, pasokan supply berkurang mendorong harga jadi naik, dan akhirnya ikut menerpa pasokan yang berasal dari petani lokal. Pada saat ini petani lokal melakukan protes terhadap pemerintah dengan cara memblok pasokan yang berasal dari dalam negeri. Alhasil harga kedelai jadi makin melambung dan mempercepat kehancuran industri lokal itu sendiri.

Pemerintah melakukan tindakan yang dianggap sebagai solusi instan yaitu dengan memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk komoditas tersebut hingga akhir tahun. Dengan diperbesarnya keran impor plus bebas bea masuk, memang dengan segera bisa diharapkan harga kedelai segera turun, namun apa jadinya industri kedelai dalam negeri ya?

Menurut Anda apa yang sebaiknya kita lakukan ya? dari sudut pandang pemerintah dan juga bangsa secara keseluruhan?

*foto dari agrolek.com