Kita Adalah Warga Dunia


Kenyataan yang harus kita terima saat ini adalah kita hidup di sebuah tempat yang tidak lagi memiliki batas negara. Informasi yang kita miliki bisa dikonsumsi oleh orang lain yang tinggalnya dibelahan dunia sebaliknya (tentunya jika kalian meyakini bahwa dunia ini tidak datar) dalam hitungan detik. Ini bisa jadi ancaman namun bisa juga dilihat sebagai keuntungan. Betapa tidak? Seluruh manusia yang tinggal di dunia ini bisa menerima informasi dari kita (tentunya jika kita menargetkannya demikian), tinggal bagaimana mengolahnya agar bisa menjadi apa yang kita inginkan.  Baca lebih lanjut

[Bangwinissimo] Apakah Anda Kecanduan Internet?


internet addict

Semakin masuknya internet dalam kehidupan kita menyebabkan kadang kita tidak sadar apakah intensitas penggunaan internet masih wajar atau sudah melebihi takaran. Ya memang tidak ada takaran baku tentang penggunaan internet yang normal sih namun saya yakin secara alami tubuh kita pun bisa memberikan tanda-tanda jika kelihatannya kita sudah terlalu banyak menggunakan internet namun apakah kita mesti menunggu sampai kecanduan dahulu baru bisa mengetahuinya? Baca selengkapnya.

Teknologi untuk Penyebaran Konten ke Pelosok Indonesia


buku_utk_papua

Pendidikan di negara kita ini penyebarannya tidak merata, kita semua tahu itu. Dan penyebabnya salah satunya dan yang terpenting katanya adalah infrastruktur yang lambat sekali pembangunannya. Apa benar demikian? Apa sih yang disebut dengan infrastuktur yang jadi kambing hitam penyebab lambatnya penyebaran pendidikan? Berdasarkan hasil tanya sana-sini infrastruktur yang dimaksud tersebut adalah sarana dan prasarana agar proses belajar-mengajar bisa berlangsung, dengan kata lain mulai dari keberadaan listrik, ruang kelas, meja-kursi, sampai dengan pengadaan guru dan pengajarnya. Saya jadi bertanya-tanya apakah benar proses belajar-mengajar itu tidak bisa berlangsung jika sarana dan prasarana yang disebutkan di atas tidak tersedia?  Baca lebih lanjut

Mendiagnosa Diri Sendiri


Sedikitnya kita tahu bahwa kehadiran internet dalam kehidupan sudah merubah cara menjalani aktivitas kita semua. Salah satu contoh yang bisa saya sampaikan adalah yang terjadi pada industri kesehatan.

Dahulu, jika kita atau anggota keluarga kita jatuh sakit yang kita lakukan adalah melihat gejalanya lalu mencoba memperkirakan sakit yang kira-kira diderita sebelum memberikan obat ataupun jika kelihatannya parah maka akan dibawa langsung ke dokter, dan lalu menunggu diagnosa dari dokter tersebut. Yang terjadi ketika masyarakat sudah mengenal internet adalah berubahnya rute pencarian informasi sebelum akhirnya kedokter.

Di jaman internet ini, jika seseorang jatuh sakit maka yang pertama-tama ia lakukan adalah mencari informasi tentang apa yang dideritanya di internet. Apa gejalanya? Seserius apa? Lalu apa yang harus dilakukan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang biasanya muncul pada situasi tersebut. Dan mereka akan menggunakan pengetahuan mereka untuk mencari informasi guna menjawab pertanyaan-pertanyaan awal tentang apa yang mereka rasakan sebelum mereka mendiskusikannya dengan orang-orang terdekat mereka. Step berikutnya mereka akan mencari situs-situs tentang kesehatan yang mereka percaya bisa memberikan opsi-opsi untuk dealing dengan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Setelah mereka kira-kira bisa menyimpulkan apa yang terjadi, baru mereka memutuskan untuk datang menemui dokter spesialis yang bisa memfinalisasi diagnosa awal yang mereka lakukan sendiri. Dengan demikian setidaknya mereka bisa berdiskusi dengan dokter tidak dalam keadaan tidak tahu sama sekali.

Dari data yang ada pada laporan InSites Consulting, Patient Health Study – 2009, ada sekitar 10% pasien membuat keputusan mereka sendiri tentang jenis obat dan pengobatan yang mereka inginkan pada dokter mereka.

Foto oleh 05.com

Internet Untuk Semua


Disekitar tahun 2003-2005, saat saya tinggal di NYC, kota ini banyak membuka pandangan saya terhadap bagaimana berkehidupan secara modern tanpa harus meninggalkan kualitas. Salah satunya adalah otoritas taman kota yang berlomba-lomba untuk menjadikan taman kota jadi tempat yang nyaman untuk disinggahi. Salah satu taman tersebut namanya Bryant Park yang juga merupakan venue resmi dari New York Fashion Week. Tentunya saya tidak akan bercerita tentang New York Fashion Week ya namun yang membuat saya kagum adalah taman ini menyediakan free wifi untuk para pengunjungnya. Sehingga banyak yang menggunakan Bryant Park ini sebagai tempat kerja jika sedang bosan bekerja dibelakang meja.

Internet seperti yang kita ketahui sudah jadi kebutuhan yang tak terlepaskan dari kehidupan kita, setidaknya yang tinggal di kota-kota besar. Dan ide membagikan akses internet sama saja dengan memperhatikan kenyamanan hajat orang banyak. Mengkaitkan dengan ini maka apa yang dilakukan oleh Google dengan Project Loon nya betul-betul sebuah lonjakan dahsyat.

Project Loon adalah sebuah proyek eksperimen dari Google untuk menyediakan akses internet gratis bagi tempat-tempat terpencil dan juga daerah-daerah miskin dengan cara menerbangkan sebuah balon udara yang lalu memancarkan sinyal wifi ke tempat-tempat tersebut. target utama terlihat dengan jelas, yaitu Google ingin jadi penyedia wifi secara global

Niatan Google boleh dibilang sangat ambisius, namun bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk dijalankan. Saya pribadi tidak berharap Google akan bisa “mampir”  ke Indonesia dengan Project Loon ini namun, saya pikir ide ini bukanlah milik Google semata sehingga kita semua bisa memikirkan solusi yang kurang lebih sama untuk bangsa kita.

Bagaimana menurut Anda?

foto: Engadget

Indonesian Journalists Technographics Survey Report 2013


Setelah sukses merilis laporan terbuka ditahun 2012 yang bertajuk Indonesian Journalist Technographics 2011/2012 yang bercerita tentang bagaimana jurnalis Indonesia menggunakan internet, kali ini bekerjasama dengan Universitas Paramadina, Maverick kembali merilis laporan terbuka serupa untuk 2012/2013. Mari kita lihat dan pelajari dibawah ini:

Don’t Feel Too Comfy in The Lion’s Cage


Mungkin sebagian besar dari Anda sudah mengetahui peristiwa pemblokiran Instagram oleh Twitter yang menyebabkan setiap posting (foto) yang dilakukan pada Instagram tidak akan bisa lagi di share ke Twitter timeline.

Saya sempat mentweet pertanyaan yang muncul dibenak saya, apakah pengguna Instagram yang selama ini cukup menggantungkan diri pada Twitter yang sudah memiliki jaringan pengguna lebih luas akan bisa bertahan untuk tidak menshare foto-foto Instagram mereka ke Twitter?

Bila kita tarik pandangan kita agar bisa melihat lebih luas maka sebenarnya tidak ada satupun produk yang posisinya benar-benar aman bila mereka “hidup” di atas platform produk lain. Facebook dan Twitter sudah tumbuh menjadi sebuah platform raksasa dimana banyak produk yang hanya bisa berjalan di atas platform tersebut. Ironisnya platform tersebut dimiliki oleh perusahaan lain yang juga berpotensi menjadi kompetitor mereka dikemudian hari.

Saya tidak berbicara mengenai peristiwa Instagram dan Twitter yang persinggungannya tidak langsung, namun yang saya maksud adalah aplikasi-aplikasi dan produk-produk seperti UberSocial, HootSuite, Echofon di Twitter atau game-game Zynga yang jalan di Facebook.

Istri saya sempat berkomentar tentang ini, “Coba di dunia ini gak ada kejadian saling memakan dan aman selalu ya”. Ya seperti juga yang diharapkan oleh John Lennon pada lagunya yang berjudul “Imagine”. Well it’s just nature…business just like nature, so don’t feel to comfortable in lion’s cage if we know they could eat us when they want it to…:-)