Mengawal Pemilu



 

Pemilihan Umum 2019 sudah dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Ada beberapa daerah yang sedang melakukan pemilu susulan karena ada satu dan dua hal kendala yang membuat mereka harus melakukannya agak terlambat. Problem yang muncul sekarang adalah masalah penghitungan suara. Baca lebih lanjut

Bukti Negara Kita Tidak Tidur


Pada hari ini pemerintah Indonesia melakukan langkah yang menurut saya cukup mendobrak yakni membubarkan organisasi massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saya tidak akan memberitakannya lagi namun ingin membahas betapa langkah ini memberikan pembuktian setidaknya dimata saya pemerintah kita masih punya ketegasan terhadap hal-hal yang sifatnya mengancam persatuan dan kesatuan negara kita. Mungkin juga kalian sependapat dengan saya.  Baca lebih lanjut

Jokowi Jadi Capres, Pecah Telor Politik Indonesia


Akhirnya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) resmi menjadi calon presiden PDI-P setelah ketua umum PDI-P, Megawati Soekarno mengeluarkan surat perintah harian yang isinya mendukung Jokowi sebagai calon presiden PDI-P.

Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut karena pasti berita seputar ini akan bisa ditemui di hampir semua media massa. Yang menarik buat saya adalah bagaimana pergerakan partai politik dan capres 2014 sebelum Jokowi menerima mandat Megawati tersebut dan sesudahnya. Baca lebih lanjut

Mobil Murah dan Rangkaian Permasalahannya


Pertama kali saya dikejutkan dengan munculnya mobil murah adalah pada saat melihat iklan Daihatsu Ayla dengan harga dibawah 100 juta. Reaksi spontan saya adalah, excited, karena pada akhirnya kendaraan ini bakal lebih kebayang untuk dimiliki. Ya bayangkan saja, di kota yang transportasi umumnya tidak layak ini apalagi yang didambakan selain bisa bepergian dengan nyaman, betul tidak. Macet? Ya macet itu sudah nasib dan tidak akan bisa diselesaikan lagi, intinya adalah bagaimana dalam mengarungi kemacetan kami tidak makin menderita dengan harus berdesak-desakan di transportasi umum yang sangat tidak layak tersebut. Dan saya yakin seyakin-yakinnya inilah yang ada didalam benak sebagian besar penduduk Jakarta. Baca lebih lanjut

Mengembalikan Harapan ke Daerah


Apa bedanya Jakarta di tahun 90an dengan sekarang? Tentunya selain pembangunannya ya kesemrawutannya. Kota ini seolah kepenuhan penghuni tanpa diimbangi dengan cukupnya kepatuhan terhadap hukum yang menjadikannya chaotic. Mengapa Jakarta semakin penuh? Ya karena arus urbanisasi yang tak terbendung. Lalu apakah kita harus membangun pagar disekeliling batas kota untuk mencegah urbanisasi? Tidak terbayang apa jadinya.

Sebagai ibukota dan juga pusat perekonomian negara, Jakarta memang diprediksikan tumbuh dengan pesat seiring dengan pembangunan yang terus berlangsung di era regim Soeharto. Pembangunan dirasakan melambat saat pergantian regim, namun tidak terjadi pada urusan urbanisasi yang tetap melaju dengan cepat.

Seperti yang terjadi di Amerika Serikat diawal terbentuknya, dimana para imigran berbondong-bondong masuk ke Amerika karena adanya harapan mendapatkan apa yang disebut dengan American Dream, harapan mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan lebih layak. Arus urbanisasi mengalir dari desa-desa ke kota-kota, sehingga perkembangan di daerah menjadi lambat, sedangkan kondisinya tidak diimbangi dengan harapan karena lapangan pekerjaan dikota-kota  pun tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Masih ingat dengan pepatah kata “Ada Gula Ada Semut’?, semua orang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan ini yang dilihat di kebanyakan daerah terhadap kota-kota besar. Cari kerja gampang, gaji besar, dan lain sebagainya padahal sebenarnya jumlah lapangan pekerjaan yang sangat tergantung dari pembangunan (yang melambat sejak pergantian regim) sangat-sangat terbatas. Sehingga “gula” yang dilihat sebenarnya “gula” semu yang terlihat besar karena desperate, keputus-asaan hidup di daerah.

Sukses atau tidak sebuah negara bisa dilihat dari tingkat kesejahteraan bangsa yang hidup didalamnya. Ketidak merataan kesejahteraan hidup di Indonesia disebabkan salah satunya oleh adanya sentralisasi yang terjadi sejak masa orde baru. Semua kontrol ada di pusat (Jakarta) yang berakibat hampir semua pemasukkan juga masuk ke pusat. Hanya sebagian kecil dikembalikan ke daerah sehingga no wonder perkembangan di daerah jadi sangat lambat, termasuk berakibat pada tersedianya lapangan pekerjaan di daerah.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta, Djoko Widodo saat beliau menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan arus urbanisasi seiring arus balik paska Hari raya Lebaran:

…Ya salah satu caranya mendorong investasi ke daerah-daerah, mendorong peredaran uang lari ke daerah-daerah, sehingga disana tumbuh, ada lapangan pekerjaan, atau ada investasi, itu aja.

Cara yang dipaparkan oleh Jokowi adalah cara yang sebenarnya dari dulu sudah kita semua ketahui, namun adakah tindakan yang dilakukan untuk mewujudkannya? Saya kembalikan pertanyaan ini kepada Anda untuk menjawabnya 🙂

Foto: Polychrome Interest