Mengapa Monetisasi Media Tidak Akan Pernah Berhasil


Saat ini, banyak yang membicarakan isu-isu tentang media dalam hal memonetisasi konten mereka. Sederhananya, iklan tidak berjalan dengan baik, dan media berjuang untuk mengubah pembaca/pemirsa mereka menjadi penghasil profit yang aktual. Baca lebih lanjut

Iklan

[Bangwinissimo] Menjadi Media Tanpa Disadari


being media

Internet membuat hampir semua kegiatan kita perlahan tapi pasti bisa dilakukan dengan cara seperti “membaca”. Betapa tidak saya ambil contoh kegiatan membaca saja yang dulunya harus diawali dengan membeli medianya dahulu seperti koran, buku ataupun majalah, kini semuanya bisa dilakukan dalam sebuah alat tipis berlayar yang terkoneksi ke internet. Baca selengkapnya di sini.

Pembodohan Publik di Media


Ditabrak Polisi, ABG Putri 13 Tahun Justru Jadi Tersangka….

Apa kira-kira yang terlintas dipikiran Anda jika membaca judul sebuah artikel seperti di atas ini? Bila Anda menonton berita yang judulnya saya ambil di atas ini maka terlihat ada usaha pemutar balikkan sudut pandang. Pembaca digiring ke arah lain sehingga si anak terlihat mendapatkan perlakuan tidak adil dan polisi jadi bad guy nya. Well di negara ini polisi selalu cenderung ditempatkan pada sisi antagonis. Ya memang saya tidak pungkiri bahwa korps mereka memang punya pekerjaan rumah yang cukup besar yaitu mengembalikan citra mereka yang tercoreng selama berpuluh-puluh tahun karena perilaku mereka juga. Kali ini saya tidak ingin menyoroti polisi, namun justru ingin mengangkat betapa mudahnya media membolak-balik sudut pandang demi kepentingan banyaknya viewer/klik/traffic tanpa memikirkan akibat kerugian yang diderita semua orang karena salah dalam memandang sebuah permasalahan.

Kembali ke video tersebut, jika Anda tonton dengan seksama maka ada hal-hal mendasar yang membuat si anak yang berumur 13 tahun ini jadi tersangka, terlepas dari yang menabraknya adalah mobil polisi, yaitu: Anak ini mengendarai motor dibawah umur, sehingga ia tidak memiliki SIM, yang kedua ia mengendarai motor dengan melawan arus, dan yang ketiga, ia pun tidak mengenakan helm.

Bahwa ia tertabrak dan kemudian sekarang ia tidak bisa jalan, itu adalah hal yang harusnya dibahas terpisah. Kita harus mulai bisa mengidentifikasi mana hal-hal yang masuk ranah hukum dan mana hal-hal yang sifatnya kemanusiaan. Saya pribadi berpendapat bahwa anak ini harus dirawat dan dijamin kesembuhannya, namun masalah pelanggaran yang dilakukannya tidak serta merta bisa di konversikan menjadi pemaafan karena penderitaannya.

Seharusnya media ikut mendidik bangsa kita agar bisa lebih dewasa dalam memandang hal-hal seperti ini ketimbang mentweak beritanya agar bisa mendapatkan keuntungan pribadi berupa viewer, klik maupun traffic bagi media mereka.

Menurut saya jika media melakukan hal-hal seperti pada video ini maka media tersebut sengaja maupun tidak disengaja sudah melakukan pembodohan publik.

Bagaimana menurut Anda?

Foto: Detik.com

Digital Tsunami


Judul diatas saya ambil dari judul acara ngobrol-ngobrol di acara Obsat yang malam tadi baru saja berakhir. Judul lengkapnya adalah “Digital Tsunami: The Media Company Challenges“ yang diprakarsai oleh mas Yuswohady, penulis buku-buku yang berorientasi marketing dimana ia mengundang para tokoh dibidang media yang cukup terkenal antara lain Petty Fatimah (Chief Editor & Chief Community Officer majalah Femina), Kemal Gani (majalah SWA), Kris Moewanto (Jawa Pos), Edi Taslim (Kompas.com), dan juga praktisi konsultan brand yang menerbitkan buku berjudul Brand Gardener, mas Handoko, dan juga saya pun diajak ikutan naik panggung pula oleh mas Yuswohady.

Dari pembicara yang dihadirkan oleh mas Yuswohady ini, akhirnya kita bisa melihat bagaimana sebuah media mencoba bereksperimen untuk mendapatkan formulasi yang tepat agar media mereka bisa tetap survive ditengah mulai maraknya penggunaan media digital. Salah satu penanya diakhir acara sempat menyebutkan bahwa penggunaan istilah Tsunami Digital agak terlalu berlebihan karena dari dulu sudah banyak media berbasis social media yang sudah jalan dan sepertinya tidak ada sesuatu yang heboh yang terjadi. Ya saya pribadi berpendapat kita semua memang harus melihat dari point of view yang berbeda untuk bisa memahami apa yang ditakuti oleh teman-teman media tersebut.

Satu hal yang mungkin perlu difahami, pada saat media digital itu memiliki varian yang banyak, maka kontenlah yang akan jadi pengikatnya. Eksperimentasi dengan komunitas yang dilakukan oleh Femina mungkin cocok dengan bisnis yang hendak dijalankan oleh mereka tapi belum tentu akan berhasil bila diterapkan di Jawa Pos misalnya, sehingga tidak ada lagi salah dan benar bahkan jika ada satu media yang berhasil membuktikannya. Karena apa yang benar buat satu media belum tentu bisa dijalankan di media lainnya.

Kegamangan teman-teman media karena masuknya digital media ke masyarakat sangat bisa dimengerti. Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah bagaimana media-media tersebut beradaptasi secara perlahan dan ikut mematangkan kedewasaan ber digital media di negera ini 🙂

foto: @pasarsapi